Ilmu menurut Imam Ghozali

Fejri Gasman [*]

Ilmu menurut Imam Ghazali []

“Idza zaadani ‘ilman, zaadani fahman bijahly”

(Imam Ghazali)

 Pendahuluan

Al-‘Ilm Shifatul ‘Alim, Sepenggal kalimat yang bermakna bahwa Ilmu adalah merupakan sifat dari orang yang berilmu itu sendiri. Ilmu bukan berada didalam sutur tapi dia mestinya ada dalam shudur. Oleh karena itu, tidak ada ilmu tanpa ada yang memberi, pertanyaan timbul lagi: Siapakah yang memberikan ilmu? Kenapa warisan ilmu hanya diberikan kepada‘ulama saja dan bukan umara? Apakah kriteria orang yang mendapat julukan ‘ulama itu? Pertanyaan yang kerap kali kita dengar tapi kadang jawabannya belum tepat mengenai sasaran. Pembahasan kali ini tidak menyinggung pertanyaan diatas tapi lebih kepada keutamaan ilmu, pembagian dan kriteria ilmu itu sendiri.

Di Abad ke-12 dan ke-13 yang lampau, para ilmuwan barat berbicara: kenapa kita sudah menterjemahkan banyak buku khazanah keilmuwan Islam tapi kita belum juga maju seperti mereka? [1] melihat para ilmuwan muslim begitu kaya dengan khazanah keilmuwan Islam diberbagai bidang, akhirnya mereka secara massif menterjemahkan kedalam bahasa Latin yang hingga abad ke-18 merupakan lingua franca sekaligus bahasa agama dan ilmu pengetahuan.[2] Kemudian pertanyaan-pertanyaan itu muncul lagi di abad ke-20 dan ke-21, hanya sayangnya pertanyaan itu bukan datang dari komunitas non-muslim lagi tapi umat muslim sendiri.[3] Kemuduran yang diartikan oleh sebagian orang disini adalah sains dan teknologi.

Peneluran” sains dan teknologi barat sudah banyak didapati dimana-mana sehingga paradigma pemikiran mereka menjadi acuan disiplin keilmuan sains dan teknologi di abad ke-21. Para ilmuwan muslim abad ke-19 dan-20 seperti Muhammad Iqbal, Muhammad Abduh, Rasyid Ridho, Syeikh Waliullah Adh-Dhihlawi, Shibli Nu’mani dan sebagiannya sebenarnya sudah mempunyai konsep besar untuk merekonstruksi kembali sistim pendidikan sehingga menjadi sebuah keseimbangan ilmu duniawi dan ukhrowi dan tidak ada perbedaan antara ilmu Islam dan ilmu sains.[4] hanya saja yang me-lirik kembali konsep itu masih terbilang.

Dari sini banyak disiplin ilmu yang perlu untuk dikaji dan pelajari lagi, baik tentang Epistimologi, Ontologi maupun Aksiologinya. Dari variasi itu, banyak pandangan yang tidak sama satu dengan yang lain. Beberapa rujukan ilmu yang diambil oleh para ilmuwan barat semuanya bermuara dari asumsi keraguan (conjecture source), dan bahkan tidak berdasar.[5] Itulah kemudian disiplin ilmu yang ambil dari western scholars menjadi suatu keunikan tersendiri tapi sebenarnya rujukan mereka sangat syarat dengan kelemahan. Bagaimanapun juga, mengkaji khazanah keilmuan dari kitab-kitab turots para ulama muslim tidak kalah hebatnya untuk ditelaah dan kemudian dijadikan rujukan seperti halnya ke-iri-an para ilmuwan barat ketika melihat khazanah keilmuwan Islam di sekitar abad ke-12 dan 13 Masehi, Sungguh membanggakan..!!

Berawal dari sinilah, penulis mencoba melihat tokoh sangat berpengaruh dalam pemikirannya terutama konsep ilmu yang sebagian banyak rujukannya dipetik dari absolute source, tak ada keraguan didalamnya sebagai petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tokoh yang dijuluki Hujjatul Islam ini sudah membuat influential book,Ihya ‘Ulumuddin. Sebuah rujukan dari permasalahan umat dari mulai masalah fundamental sampai konvensional, juga dari hal fisik sampai metafisik. Oleh Karena itu, sangatlah penting penulis memulakan pembahasannya dari seorang tokoh besar berasal dari Thusi, Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thusi, Abu Hamid Al Ghazali yang akan dibahas dalam konsepnya tentang Ilmu. Akan diuraikan oleh penulis dalam goresan sederhana dibawah ini.

 Fadhilah Ilmu, Ta’lim dan Belajar

Mencari ilmu merupakan kewajiban bagi seorang muslim baik laki-laki maupun perempuan. Ayat Al-Qur’an dan Hadis Nabi banyak menunjukkan tentang hal itu. Sekarang timbul pertanyaan, Ilmu apakah yang diwajibkan kepada seorang muslim untuk mencarinya? Sudah barang tentu bukanlah semuanya.

Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa untuk mendapat kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, seseorang itu hendaklah mempunyai ilmu dan kemudian wajib untuk diamalkan dengan baik dan ikhlas. Keutamaan ilmu tersebut sebenarnya adalah peluang manusia untuk mendapatkan derajat yang lebih baik. Dengannya dapat memzahirkanexistensi manusia itu sendiri. Karena itulah Allah membedakan antara orang yang mengetahui dan tidak mengetahui, keduanya tidak sama. Firman Allah SWT, “Qul, hal yastawi alladzina ya’lamun walladzina la ya’lamun?.”[6]

Sebagai penuntut ilmu, selalu tak lepas dari hal-hal yang mengganggu perjalanannya, baik itu ekonomi, maupun akademisnya. Seorang yang ingin mencari ilmu harus meyakini pertama kali adalah rizki sepenuhnya dijamin Allah 100% dan dia datang dari tempat yang tidak diduga-duga.[7] Oleh karena itu, ajakan satu sama lain untuk belajar menjadi hal penting. Rumusannya, sebenarnya orang tanpa diajak untuk mencari uang, dia sudah pasti  akan mencarinya tapi bila diajak saja untuk belajar belum tentu mau apalagi kalau tidak diajak. Oleh karena itu, sangat penting untuk saling mengajak satu sama lain dalam kebaikan terutama dalam belajar. Dengan begitu, maka orang yang keluar menuntut ilmu sesungguhnya Allah akan membukakan jalan kemudahan baginya bahkan jalan menuju surga sekalipun.[8]

Ketika perjalanannya yang dilalui banyak rintangan dan hambatan maka saat itulah ujian akan dia hadapi yang akhirnya akan menguji kesabarannya dalam melangkah. Itulah kenapa Imam Ghazali banyak menyinggung  tentang kemuliaan orang yang menuntut ilmu seperti belajar satu bab saja dari ilmu Allah itu lebih baik dari pada sholat sunnah 100 rakaat.[9]  

Ada banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang menyebutkan kewajiban terhadap orang yang mempunyai ilmu. Imam Ghazali menyebutkan Ilmu itu haram untuk di simpan secara sengaja.[10] Ilmu Allah adalah ilmu yang menjadi solusi bagi manusia, tapi ketika Ilmu Allah itu disimpan dan tidak mengajarkannya maka dia akan menjadi dosa dalam hatinya.[11]Itulah sebagian daripada fadhilah Ilmu [12] dan fadhilah yang menuntut ilmu serta sebagian dari kewajiban orang yang sudah mempunyai ilmu.

Imam Ghazali mendeskripsikan bahwa menuntut Ilmu itu seperti sesuatu yang disukai, jika  dia memintanya maka seterusnya akan meminta yang lainnya atau meminta selain dari sejenisnya. Beliau mengatakan bahwa meminta selain darinya adalah lebih mulia (asyraf ) dan lebih utama (afdhal ) daripada meminta selain dari jenisnya, seperti dirham dan dinar (money oriented).[13] Oleh karena itu, yang meminta selainnya atau meminta bermacam-macam disiplin ilmu yang lain untuk dipelajari (knowledge oriented), akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat dan mendapatkan kenikmatan‘melihat’  Allah SWT nantinya. Dengan deskripsi inilah, jika melihat ilmu seperti akan melihat sebuah kelezatannya ada dihadapannya.[14]

Ilmu menjadi wasilah untuk kesurga dan kebahagiaan yg ada didalamnya serta jalan untuk mendekatkan diri kepada Allahsubhanahu wata’alaWasilah kepada kebahagiaan merupakan sesuatu yang afdhal untuk dilakukan. Barangsiapa betawasshul  kepada kebaikan hendaklah dengan ilmu dan amal. Tidak ada tawasshul  kepada amal kecuali harus dengan ilmu dan kemudian diamalkan. Ilmu adalah permulaan dari kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan demikian, Ilmu menjadi amalan yang utama (afdhalul amal) dan tujuannya supaya dekat (Qorb) dengan Allah rabbul’ alamin, sang pemilik Ilmu dan alam semesta. Dengan demikian, bisa dipahami bahwa jika ilmu merupakan hal yang utama (afdhalul umur)  maka yang menuntutnya termasuk yang meminta ke-afdhal-an dan ke-asyraf-an itu, dan begitu juga pengajarnya.[15]Subhanallah…!

 Pembagian Ilmu

Dalam buku Ihya Ulumuddin di bab pertama ini, Imam Ghazali menulis tentang pembagian Ilmu. Menurut Imam Ghazali, Ilmu ada yang menjadi fardhu ‘ain untuk dipelajari, ada juga fardhu kifayah. Ilmu itu terbagi menjadi 2: yaitu Ilmu Mu’amalah dan Ilmu Mukasyafah.[16]

Dalam Ilmu Mu’amalah ini ada yang disyari’atkan dan ada juga tidak disyari’atkan.[17] Yang disyari’atkan dibagi menjadi 2, ilmu yang terpuji (‘ilmu mahmudah)  dan ilmu yang tercela (‘ilmu madzmumah) [18]. 

Imam Ghazali menjelaskan bahwa ilmu itu menjadi mahmudah karena bermanfaat untuk kemaslahatan ummat. Beliau pun membagi menjadi 4 yaitu: Ushul, Furu’, Muqoddimat, dan  Mutammimat.[19]

  1. Ushul seperti Kitabullah Al-Qur’anAssunnah, Ijma’ul ‘ummah, dan atsarushohabah.
  2. Furu’ itu ilmu penunjang yang bisa membantu untuk memahami  ‘ushul, bukan dari aspek lafaznya tapi dari aspek maknanya.ini pun dibagi menjadi 2; pertama, penunjang kebaikan dunia (mashlahat duniawi) seperti, ilmu fiqh, ilmu ‘aqoid, kedokteran, hisabfalak, politik, ekonomi dsb; dan kedua, penunjang kebaikan akhirat (mashlahat ukhrowi)seperti ‘ilm ahwalul qolb dan ‘ilm akhlaqul mahmudah wal madzmumah.
  3. Muqoddimaat adalah sebagai alat yang membantu untuk bisa memahami ilmu ushul, Seperti Nahwu, Shorf, Balaghoh dsb. 
  4. Mutammimat adalah yang menyempurnakan seperti di dalam al-Qur’an. mempelajari  ta’limul qiro’at, makharijul huruf. Kalau yang berkaitan dengan maknanya seperti ilmu tafsir. Yang berkaitan dengan hukum-hukumnya seperti mengetahui nasikh dan mansukh‘am dan khosh, atau nash dan dzohir 

Kalau didalam atsar dan akhbar ada ilmu tentang rijal, nama-namanya, nasabnya, nama-nama sahabat, sifat-sifatnya, atau ilmu‘adalah firruwat, mursal dan musnad, dsb. Kesemuanya ini adalah ilm yang disyari’atkan dan semuanya mahmudah dan masuk kedalam fardh kifayah untuk diperlajari.[20] Sedangkan Ilmu madzmumah (tdk terpuji) dicontohkan beliau seperti Sihr, Talbis, Jimat (Tholsimaat) dan ‘Ilm Asy-Sya’idzah.

Ada 3 alasan kenapa ilmu itu disebut ilmu yang tercela (madzmumah); Pertamajika ilmu itu membawa yang lain kepada kejahatan, Kedua, jika sebuah ilmu itu menyebabkan banyak kerugian. ketigajika ilmu tidak bermanfaat.[21]

 Imam Ghazali menyebutkan juga bahwa Ilmu yang tidak disyari’atkan adalah ilmu yang tidak dimanfaatkan oleh paraanbiya seperti al-hisab, atau yang berkaitan dengan eksperimen (Tajribah) seperti kedokterandan pendengaran (Sima’ ) seperti bahasa.[22]

Dalam pembagian ilmu diatas, Imam Ghazali menjelaskan bahwa kedua ilmu itu (ilmu mu’amalah dan ilmu mukasyafah) tidak akan dapat dipahami jika ada  2 sifat dalam hatinya, yaitu bid’ah dan kibr.[23]

Didalam ilmu mu’amalah, Ada 3 hal yang dibebankan kepada seorang hamba yang berakal dan mampu untuk berbuat dengannya, yaitu: I’tiqad, Fi’il dan Turuk; PertamaI’tiqod disini bermaksud bahwa setiap yang sudah mencapai kedewasaan maka wajib untuk mempercayai bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan_Nya(Syahadah)KeduaFi’il ditujukan kepada setiap orang yang sudah bisa mengetahui akan syari’at Islam maka dia dituntut untuk mengerjakannya, contoh: sholat, puasa, haji, dsb. KetigaTuruk dimaksudkan adalah seorang diwajibkan untuk belajar sesuai dengan kondisi keadaannya dan tidak bertolak dengan keadaan seseorang, seperti orang tuli tidak diwajibkan belajar dari pelajaran yang berkaitan dengan pendengarannya, atau orang yang buta tidak diwajibkan belajar dalam hal yang berhubungan dengan penglihatannya. [24]

Imam Ghazali menerangkan lagi bahwa ilmu mu’amalah ini sangat berkaitan erat dengan “keadaan hati” (ahwalil qolbi)artinya dengan Ilmu manusia itu bisa menjadi terpuji ataupun tercela. Oleh Karena itu, tidak akan bermanfaat ilmu seseorang bila dia mempunyai sifat-sifat yang tidak terpuji.

Perihal ahwalul qolb didalam ilmu mu’amalah ini, Imam Ghazali menjelaskan 2 hati (hati yang terpuji dan hati yang tercela) yang dimiliki setiap penuntut ilmu, yaitu Pertama, yang memiliki hati terpuji apabila mempunyai kondisi hati yang positif seperti ShabrSyukrKhouf (takut kepada Allah), Rojak (pengharapan), Ridho (rela), ZuhdTaqwa, Qona’ah (merasa cukup), Sakha (dermawan), Husnuddzon (baik sangka), Shidq (Jujur), dsb. Ilmu akan banyak manfaatnya bila seseorang mempunyai sifat hati  yang seperti disebutkan diatas. Kedua, Ilmu tidak akan bermanfaat bila yang menuntut ilmu tadi memiliki kondisi hati yang negatif, seperti hasd (iri), hubbutsana’ (suka pujian), al-kibr (sombong), riyakghodob (marah), al-‘adawah (permusuhan), thomak (rakus), bakhil, dsb. Sama seperti perkataan seorang ‘ulama muslim Tajuddin Assabaky dalam bukunya “Muqoddimah Thobaqoti asy-Syafi’iyyah al-Kubro” beliau berkata: ”man lam yashun nafsahu, lam yanfa’hu ‘ilman”  artinya barangsiapa yang tidak menjaga (kehormatan) dirinya, maka ilmu tidak akan bermanfaat untuknya. Itulah kenapa, setiap ilmu yang disampaikan harus secara baik dan dalam kondisi hati yang positif.

Dalam Ilmu Mukasyafah, Imam Ghazali menjelaskan bahwa ilmu ini adalah “ghooyah” dari semua ilmu karena dia yang berkaitan dengan hati, jiwa, ruh dan pensucian jiwa (Purification of Soul). Dia diibaratkan seperti cahaya yang menerangi hati seseorang dan yang mensucikan dari sifat-sifat tercela. Dengan membuka cahaya itu maka perkara yang banyak dapat diselesaikan, didengar, dilihat dan dibaca dan akhirnya membuka hakekatul ma’rifah dengan dzatullah subhanahu wata’ala. Inilah ilmunya para Shiddiqun dan Muqorrobun. Mereka bisa mengetahui hakekat dari makna kenabian, wahyu, syeitan, lafadznya malaikat dan syeitan, perbuatan syeitan kepada manusia, cara penampakan malaikat kepada nabi, cara penyampaian wahyu kepada nabi, mengetahui seisi langit dan bumi, mengetahui hati dan bercampurnya malaikat dan syeitan-syeitan didalam hati manusia, mengetahui surga dan neraka, adzab kubur, shirath, mizan dan hisab. Mengetahui sebuah makna pertemuan dengan Allah Azza wajalla dan melihat kepada wajah_Nya yang maha mulia, dsb. Inilah ilmu yang tidak tertulis didalam buku dan tidak dibicarakan kecuali ahlinya saja yang bisa merasakannya. Dilakukan dengan jalan berdzikir dan secara rahasia. Ilmu ini adalah ilmu yang kurang terlihat.[25] Penjelasan tentang ilmu ini akan dijelaskan panjang dibab-bab berikutnya.

 Perubahan makna Ilmu

Makna dari penamaan beberapa disiplin ilmu kadang akan merubah otentitas dari kandungan ilmu itu sendiri. Imam Ghazali mengatakan bahwa banyak orang merubah makna Fiqh, Ilm, Tauhid, Tadzkir dan Hikmah. Perubahan makna ini menyebabkan perubahan otentisannya karena kaitan yang tersirat dari ilmu-ilmu tersebut sangat berhubungan dengan metafisik termasuk juga akhirat, jiwa, dan keterlibatan Allah didalam kebanyakan pembahasannya.

Jika menyinggung dalam disiplin Ilmu Fiqh, Ketika itu Sa’ad ibn Ibrahim ditanya: siapakah ulama’ faqih di Madinah? Dia menjawab: dia yang lebih banyak takut kepada Allah. Rasulullah SAW juga pernah bersabda: Seorang manusia tidak bisa disebut seorang faqih yang sempurna jika tidak membuat manusia memahami tentang existensi Allah. Oleh karena itu, ketika banyak yang merubah makna fiqh, Ilm, Tauhid, Tadzkir dan hikmah dan memisahkannya dari keterlibatan Allah didalamnya maka sebenarnya itu adalah  ilmu yang tidak terpuji.

Dalam kaitan perubahan ini, Imam Ghazali menyinggung bahwa ketika khalifah Umar r.a. meninggal, Hazrat Ibn masud pun berseru bahwa: “Nine-tenths of the science of religion have passed away. The present people used the term Ilm to mean the science of those who can well debate the cases of jurisprudence with their adversaries and those who cannot do that are termed weak and outside the category of the learned men” [26] Demikanlah bahwa memang perubahan makna yang terjadi sungguh banyak merubah esensi ilmu dari sudut pandangan Islam.

Penutup

Sudah banyak yang mengelempokkan disiplin Ilmu sehingga menganggap bahwa ilmu yang mereka galuti adalah yang wajib untuk dipelajari. Imam Ghazali menyebutkan ada lebih dari 20 kelompok yang mengatakan kewajiban ilmu itu wajib dipelajari, seperti kelompok al-Mutakallimun: mereka mengatakan bahwah Ilmu Kalam itu wajib dipelajari karena dapat mengetahui ke-tawhid-an dan Dzat Allah Subhanahu dan juga sifat-sifat_Nya. Ada juga kelompok al-Fuqoha’: mereka mengatakan Ilmu Fiqh itu wajib untuk dipelajari karena dengannya bisa mengetahui ‘Ibadah, halal dan haram dan apa-apa yang diharamkan dan dihalalkan dari mu’amalah .dsb. Oleh karena itu pembagian-pembagian diatas menggambarkan bahwa betapa pentingnya ilmu itu dipelajari.

Sekarang, ilmu yang kita pelajari menjadi sebuah pilihan. Ketika dihadapkan kepada 2 pilihan maka pilihan itulah yang akan kita ambil. Jika ingin yang terbaik, maka pilihlah jalan yang sudah dilakukan ulama’ terdahulu karena mereka adalah para waratsatul anbiya’, dan jika sebaliknya maka pilihlah jalan yang dilalui generasi terbaru. Yang jelas, Imam Ghazali sudah menjelaskan bahwa tujuan ilmu hanyalah agar dekat dengan Allah dan mengenal lebih banyak tentang_Nya. Jika sudah mengenal Allah maka rasa cinta akan tumbuh dan kemudian menjadi lebih dekat kepada_Nya Rabbul ‘arsyil adzim. Jati diri ini akan ditemukan ketika kita sudah mengetahui Allah dengan ilmu_Nya yang kita pelajari, seperti sabda Rasulullah: “Man ‘arafa nafsahu faqod ‘arafa Rabbahu”  Artinya barangsiapa yang sudah mengetahui [jati] dirinya maka artinya dia sudah mengenal Tuhannya. Oleh karena itu, kenalilah Allah dengan belajar semua Ilmu_Nya karena Ilmu itu wajib untuk dipelajari oleh setiap muslim. Dia adalah tuntutan agar bisa mengenal Allah.  Dan musuh manusia paling besar adalah kebodohannya sendiri, “Annasu a’daa_un ma jahilu”. Sekian dan Terimakasih.

“Belajar itu murah tapi Ilmu itu mahal”

 Referensi

 *      Kandidat Master Ushuluddin di Universitan Islam Antar bangsa, Malaysia.

**    Makalah perdana Kajian Kitab Klasik (Triple K) di Universitas Islam Antarbangsa, Malaysia.

[1]    Penyampaian Dr. Syamsuddin Arif ketika membentang makalah beliau di Universti Malaya. 3 April 2010

[2]    Lih. artikel berjudul, Transmigrasi Ilmu: Dari Dunia Islam ke Eropa” oleh Dr. Syamsuddin Arif, ketika menjadi pembicara di International Seminar on The Enlightenment of Islamic Civilization,  13 November 2010 di Universitas Sulatan Agung (UNISSULA) Semarang,  p.3

[3]  Sebuah buku yang memaparkan pertanyaan-pertanyaan itu sudah dipresentasikan oleh shobibul manar “Ashayyid Rosyid Ridho”. Beliau mempresentasikannya karena permintaan dari seorang yang selalu diberi julukan sebagai amirul bayan,”Syakit irsalan”. Syakit Irsalan ini seorang ilmuwan besar di wilayah timur ‘arab, yang kemudian menulis sebuah buku berjudul Limadza ta’akhorul Muslimun wa limadza taqoddama ghoiruhum, (al-Qohiroh: mathba’ah al-manar), 1930 M.

[4]    Sebuah renungan dari M. Iqbal yang mengatakan: “One cannot resurrect a ‘dead’ tradition by infusing an alien ‘blood’ into it.” Artinya satu kejadian tidak dapat menghidupkan sebuah tradisi ‘kematian’ dengan cara menginfus darah satu alien kedalamnya. Lihat artikel “Islam dan Sains: Renungan dan Rancangan” oleh Dr. Syamsuddin ‘Arif

[5]    Mumtaz Ali, Critical Thinking an Islamic Perpective (Kuala Lumpur: Percetakan Adiwarna Utama), 1st edition: 2008, Hal. 34

[6]  QS. Azzumar: 9

[7]  Man tafaqqoha fi dinillah ‘azza wajalla, kafahullahu ta’ala ma ahammahu warazaqohu min haitsu la yahtasib. HR. Khotib

[8]  Mengambil sabda Rasulullah SAW: Man salaka thoriqon yathlubu fihi ‘ilman sallakallahu bihi thoriqon ilal jannah. (HR. Muslim)

[9]  Mengambil sabda Rasulullah SAW: Li an taghdu fatata’allam baban minal ‘ilm khoirun min an tusholli mi’ata rak’atin(HR. Ibn Majah)

[10]  . وإن فريقا منهم ليكتمون الحق وهم لايعلمونQS. Al-Baqoroh: 146

[11]  ومن يكتمها فإنه إثم قلبه. QS. Al-Baqoroh: 283

[12]   Dalam penjelasan makna fadhilah ini, Imam Ghazali mendefinisikannya bahwa dia diambil dari kata fadhl yang  bermakna Ziyadah. Hubungannya dengan Ilmu adalah sesungguhnya Ilmu merupakan Ziyadah (kelebihan) jika disandarkan dari sifat-sifat yang lain seperti halnya kuda betina mempunyai fadhilah dari pada hewan-hewan yang lain. Ilmu adalah fadhilah dalam sesama disiplin ilmu dan selainnya juga. (Lih. Ihya ‘Ulumuddin, vol 1, edisi ke 3 hal. 20)

[13]  Imam Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin (Bairut: Darul Kutub al-Ilmiyah), Jilid 1,  Cet k3, p. 20

[14]  Ibid, p. 20

[15]  Ibid, p. 20

[16]  Ibid, hal. 22

[17]  Ibid, hal. 23

[18]  Ibid, hal. 23

[19]  Ibid, hal 24

[20]  Ibid, hal. 24

[21]  Fazlul Karim, Revival of Religious learning Imam Ghazali’s Ihya ‘ulumuddin. (Karachi: Darul-ishat), vol 1, 1993

[22]  Ibid, hal 23

[23]  Ibid, hal. 26

[24]  Ibid, hal. 22

[25]    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنّ من العلم كهيئة المكنون لا يعلمه إلا أهل المعرفة بالله تعالى، فإذا نطقوا به لم يجعله إلا أهل الاغترار بالله تعالى علما منه، فإن الله عز وجل لم يحقره إذ آتاه إياه (Ihya, Ibid, hal. 27)

[26]  Fazlul Karim, Revival of Religious learning Imam Ghazali’s Ihya ‘ulumuddin. hal. 46

<Photo 1>

About fejrigasman

Just a seeker of knowledge with Allah's love as guidance in every words of my quills.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s